Tanggal 26 pagi, saya bersiap untuk pergi. Saya dari rumah memakai baju SAWP, celana lapangan dan sandal dan membawa barang. Setelah pamit oleh orang tua, saya berangkat naik ojek ke sekolah.
Sesampainya di sekolah saya mengumpulkan barang-barang yang akan di bawa. Ternyata ketika saya kumpulkan barang, ada yang masih tertinggal di rumah sama kaya teman kelompok saya Away dan Ucok yang juga ketinggalan, kami bertiga bingung karena tidak ada kendaraan untuk pulang. Karena waktu untuk berangkat masih lama saya nongkrong di depan warung Udha sama Iko, Ucok dan Away sambil mikirin naik apaan buat pulang ngambil barang.
Gak lama nongkrong K’Baso datang naik motor. Ucok langsung bilang buat minjem motornya K Baso terus Ucok balik ke rumahnya buat ngambil barangnya. Saya dan Away nungguin buat gantian minjem motornya. Sekitar 15 menit nunggu Ucok balik. Saya dan Away langsung bilang sama K’Baso buat minjem motor. Udah di ijinin saya dan Away pergi k rumah saya. Sesampainya di rumah, saya langsung ngambil barang yang ketinggalan tersebut. Gak tau kenapa pas mau ke rumah Away dia gak jadi ngambil barangnya. Apa dia marah ama saya gara-gara gak di pinjemin piring. Katanya sih enggak enak sama K’Baso motornya lama dipinjemnya. Terus saya berdua balik ke sekolah.
Sampai sekolah kami semua melakukan packing. Setelah itu semua pada sholat. Setelah solat kami semua bersiap sudah memakai PDL, baju + celana lapangan dan cariel untuk berangkat ke Megamendung karena trontonnya sudah datang. Saya merasa senang karena sebentar lagi akan berangkat sebelum berangkat saya kencing dulu. Setelah siap kami di bariskan tiap kelompok. Saya berada d kelompok 2 bersama Lisa,Dian, Ucok dan Away. Kami semua berdo’a. Setelah itu kami meletakkan cariel di tronton. Dan kami naik siap untuk berangkat!!!.
Di dalam tronton saya mendapatkan tempat yang untuk duduk susah, sampai-sampai kaki saya naik k tumpukan cariel. Saya kesal sekali kalau Retno berisik sekali kalo lagi ngomong di tronton. Setelah sampai di dekat-dekat daerah yang kami lalui banyak pemandangan yang indah. Hari mulai menjelang sore akhirnya kami turun dari tronton.
Saya dan yang lain sangat senang sekali. Terus kami mendaki naik keatas karena tanahnya licin dan basah jadi saya harus berhati-hati melangkah. Karena ini pertama kali saya lakukan wajar saja kalau serasa capek, tapi saya berusaha untuk tidak berhenti. Ketika saya berjalan di belakang Ucok saya lihat dia kepeleset batu yang licin. Sampai bajunya kotor. Celana saya juga kotor karena tanah yang basah. Ketika terus berjuang akhirnya sampai di camp pertama.
Sesampainya saya dan teman yang lebih dahulu sampai, beristirahat menunggu teman yang lain.Sambil menunggu saya bertanya pada K’Madun kenapa kok celana dia tidak kotor sedangkan saya dan teman semua kotor. Dia jawab “kalo jalan ngelangkahnya harus jauh-jauh karena kalo deket celananya pasti kotor”.
Setelah istirahat lama setiap kelompok di suruh mengambil air dengan drigen. Pada saat itu saya yang mengambil air bersama Agien, Keli, dan Wahyu. Setelah bertanya arahnya kemana saya ber-4 mencari air. Setelah berjalan jauh, saya dan yang lain tidak tau kemana. Karena takut nyasar saya balik lagi.
Di deket camp semua melakukan upacara pembukaaan. Di dalam upacara kami di beritahukan Tata Tertib dalam Sekolah alam ini. Salah satunya ialah kalau memanggil KK’ laki-laki harus dengan sebutan Mentor sedangkan yang perempuan di panggil Mentris. Dan ada juga sebelum melakukan tugas yang di beri Mentor atau Mentris harus push up sbanyak 1 seri. Dan juga saya di ajarkan untuk melapor.
Setelah upacara, karena hari sudah gelap kami di suruh mendirikan bivoak + memasak dan mengambil air karena tadi belum dapat. Di kelompok saya berbagi tugas. Saya dan Away bertugas mendirikan bivoak dan Ucok mengambil air sedangkan Lisa dan Dian memasak. Saat mendirikan bivoak saya mengalami kesulitan saat membuat simpul pangkal. Tetapi akhirnya bivoak kelompok saya jadi walaupun paling terakhir. Setelah selesai saya merasa aneh sama bivoaknya. Karena terlalu pendek, tapi karena waktunya sudah abis saya terpaksa.
Terus saya selaku ketua kelompok pada hari itu melapor kepada Mentor Madun karena bivoaknya sudah jadi di sini saya dan teman kelompok di bilangin jangan ada yang ketawa-ketawa. Tetapi setelah itu Mentor dan Mentris yang komentar sama bivoaknya. Jadi pas Ucok balik ngambil air kami membuat ulang bivoaknya. Setelah jadi bagus saya membantu memasak.
Pada saat saya dan teman kelompok saya kebingungan karena korek api yang di bawa gak tau nyelip dimana. Tadinya di cariel saya tapi karena cariel udah di buka-buka saya juga gak tau. Terus dicari-cari akhirya ketemu di deket bivoak. Terus kami memasak. Karena keliatannya masaknya lama kalau pakai kompor lapangannya 1 saya menggali tanah supaya jadi kompor. Masak kami lanjutkan dengan masak nasi, ketika sedang menunggu Mentris Arum bilang airnya banyakin aja. Ya udah kami tambahin aja airnya. Sambil nunggu kita masak indomie dan menggoreng ikan asin yang saya bawa. Sambil liat nasi ternyata nasinya udah matang. Saya dan teman kelompok sangat senang karena nasi kami paling jadi dibandingin kelompok yang lain. Tapi saya sangat kasihan sama Adul karena cariel barunya ilang gak tau kemana.Setelah itu saya dan teman se-angkatan semua melapor karena masakan sudah jadi.
Lalu kami di suruh ke tenda panitia untuk solat dan general review. Pada saat solat saya merasa aneh karena solat sampai 7 rakaat (isya +maghrib). Setelah solat kami di beri pengarahan sama Mentor Totok. Lalu karena hari mulai malam dan besok juga melanjutkan perjalanan saya dan teman-teman disuruh makan setelah itu tidur. Saya makan di bivoak bersama kelompok. Makanannya lumayan enak juga sih!! . Setelah makan kami berberes tempat buat tidur. Saya dan Away membuat parit di sekitar bivoak dan memberi garam agar tidak ada binatang yang ganggu. Setelah selesai ada saja masalah, yaitu pasak bivoak selalu lepas. Malam semakin larut kami menyelesaikan tugas lalu push up 1 seri karena sudah menyelesaikan makan. Setelah itu saya tidur.
Karena belum terlalu capek saya tidak bisa tidur, apalagi kalau denger ngoroknya si Adhi dan kelompok saya selalu terbangun kalau ada serangga yang masuk ke dalam bivoak. Dan saya masih mendengar Mentor Hilal dan Mentor Manto berbicara pada malam ini saya juga merasa sakit perut. Tapi karena mengingat besok akan menempuh medan yang berat saya berusaha untuk tidur. Dan akhirya tertidur sampai pagi.
Tanggal 27 Desember pagi hari sekitar jam 5 semua dibangunkan oleh Mentor Manto dan disuruh cepat untuk bersiap memakai PDL. Pada saat itu saya bingung mencari PDL saya karena masih gelap dan udara pagi yang masih dingin. Tapi akhirnya ketemu juga dan saya berlari menuju tempat Mentor Manto. Ternyata disana udah ditunggu Mentor Hilal. Disana kami semua disuruh laporan pada saat laporan saya tidak konsentrasi karena kalau habis Ucok karena dia kalau ngomong “lapor” malah jadi “lapol” tapi dia sekarang jadi ketua kelompok 2.
Disini ada yang namanya di ganti si Agien diganti namanya jadi SLAWI, Dian jadi GIGIL karena dia saat laporan menggigil, Lisa jadi NYENGIR karena dia saat laporan dia nyengir melulu dan yang lucu si Adhi gara-gara ngorok semalem dia di namain NGOROK. Saat Ngorok laporan dia disuruk pake gaya ngorok sama Mentor Manto.
Lalu setelah laporan kami disuruh Mentor Hilal buat lingkaran yang menghadap kebelakang. Saya disuruh membawa tramontina sama Slawi buat nyari carielnya Adul dengan cara menerobos pohon yang ada di depan saya dan disuruh berjalan lurus. Setelah cari-cari ternyata tidak ketemu dan disuruh balik. Abis itu saya baris sama semua dan diperintahkan untuk memasak sebelum itu kami push up 1 seri.
Saya dan teman kelompok berbagi tugas yaitu ada yang melakukan packing dan masak karena barang-barang sudah gak karuan di luar semua. Saya dan Ucok melakukan packing sedangkan Nyengir, Gigil dan Away memasak. Setelah packing saya membantu masak. Saya sangat kehausan sekali pada hari ini. Akhirnya botol aqua yang 1,5 L diminum bareng dan di bagi rata sampai persediaan air bersih kami tinggal sedikit dan cukup untuk perjalanan.
Karena cuaca sedikit mendung dan gerimis Mentor Madun membuatkan 1 bivoak untuk semua kelompok. Bivoak ini untuk kita tempat makan bareng semua. Setelah masakan jadi kami berbaris dan seperti biasa melapor dan push up. Saat melapor Mentor Madun sangat seram karena dia marah terus saat laporan, saya jadi takut. Nasi kelompok saya tidak sematang semalam kalau sekarang berasa crispy sedikit.
Lalu Mentor Madun mencampurkan nasi dan sarden ketiga kelompok supaya makan bareng-bareng. Saya sangat kesal karena saya hanya makan sayur, soalnya ketika saya mau ngambil sarden ternyata sudah abis. Tapi ya biarin dah emang bukan rejeki saya kali. Setelah selesai makan kami push up dan berberes barang-barang yang belum masuk ke cariel. Abis itu kami semua berbaris dan melapor untuk siap menerima intruksi selanjutnya.
Saya sudah tidak sabar untuk melanjutkan ke camp berikutnya. Sebelum itu Saya dan teman semua melakukan senam komando untuk pemanasan supaya tidak ada yang keram. Setelah selesai kami berbaris dengan menggunakan cariel. Cariel saya serasa sangat berat sekali sehingga saya harus menunduk beberapa kali supaya tidak berat. Ketika selesai dan sedang berbaris saya sangat ingin ketawa saat Mentor Madun memberi nama Ucok menjadi ULER BUNDER atau UBUN gara-gara dia cadel dan si Adul diberi nama jadi JACKPOT karena di hari ini dia muntah.
Tak lama Mentor Totok mengajarkan kita olahraga mulut. Dia mempraktekan dengan jari kita semua kadang berteriak iiiiii…….aaaaa………tapi kalo tangan Mentor Totok masuk ke saku kita harus teriak Euwnakkk…tenannnnn…. Yaa begitulah. Saya sangat senang dan lucu saat saya teriak itu. Setelah itu kami semua melanjutkan perjalanan bersama Mentor Madun.
Perjalanan yang kami tempuh sangat berat. Naik dan turun. Karena sangat kehausan air dikit demi sedikit yang saya bawa habis diminum Nyengir, Ngorok dll . Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan karena hari mulai siang. Pada waktu di jalan yang hanya setapak saya sangat kesal sama Nina, Minarti dan Retno karena dia lama berjalannya dan selalu mengeluh menurut saya kalau jalan lama malah lebih berasa beratnya. Tapi saya sangat salut sama Nyengir dan Gigil mereka tidak ngeluh apa-apa.
Setelah berjalan cukup jauh dari camp pertama saya dan teman-teman di beri semangat karena kita akan melihat air terjun. Terus berjalan mendekati air terjun. Diperjalanan banyak sekali rintangannya tapi saya harus bisa melewatinya. Setelah berjalan saya melihat sungai. Karena persediaan air untuk minum abis saya disuruh mengambil air yang ada di sungai itu. Saya pertama ragu-ragu untuk meminumnya. Tapi setelah saya coba airnya segar sekali. Tidak jauh dari sungai itu saya melihat sungai Cikeruh saya menyebrang. Ternyata disini kami untuk makan siang kali ini.
Di pinggir sungai ini sangat panas sekali. Dan semua di suruh berbaris dan melapor disini saya diganti nama jadi TIKAM saya tidak tahu kenapa di panggil Tikam. Disini si Away juga diganti namanya jadi UBI dia juga gak tau knapa dipanggil Ubi dan sama kaya Keli namanya juga diganti jadi ANGET. Setelah laporan kami semua ditugaskan untuk memasak. Ketika semua sedang masak si Minarti dan Nina nangis minta pulang. Katanya sih gak kuat buat ngelanjutinnya.
Disini saya membuat indomie dan nasi karena bingung waktu mau habis dan niat buat ngirit parafin, tempe dan tahu saya campurkan ke indomie. Walaupun mentah enak juga sih. Tapi nasi bikinan kelompok 2, kali ini gagal total karena kompor buatannya membuat api tidak rata akhirnya cuma jadi beras. Karena waktu masak sudah abis saya dan teman kelompok terpaksa Cuma membawa indomie campuran tempe dan tahu dan air minum.
Setelah setiap ketua kelompok laporan kami makan sambil berbagi semuanya sambil liat pemandangan Gunung Pancar yang kami lalui tadi. Sesudah makan saya dan semua mencuci piring di sungai dan membereskan barang. Setelah itu kami solat dan berwudhu disungai. Saat berjalan berwudhu saya baru tau kalau Tikam itu kependekan dari Tikus Kampung, Ubi itu Ujung Bibir dan Anget itu Areng Banget. Setelah solat saya kencing di sungai di balik batu besar. Lalu semua belajar Navigasi sama Mentor Totok di pinggir sungai.
Belajar buat ngetauin posisi kita sekarang ada di mana dan di kasih tau posisi start kita sampai ke sungai Cikeruh. Ternyata jauh sekali. Pada saat kita belajar navigasi, banyak sekali anak-anak dari desa Cibimbim Muara. Kemudian karena sudah mengerti kami semua bergegas menyusuri sungai.
Saat menyusuri sungai saya harus sangat berhati-hati dan berkonsentrasi supaya tidak kepleset. Berjalan di sungai saya sangat lama sehingga saya di belakang melulu sama perempuan. Awan mulai mendung, saya semakin cepat berjalan karena akan turun hujan. Ketika berjalan saya melihat jam tangan puma di sebelah batu. Karena tidak tau punya siapa saya tidak ambil.
Tiba-tiba turun hujan, Saya minta tolong Nyengir buat ngambilin ponco yang ada di cariel saya. Habis itu jalan lewat persawahan. Kata Mentris Arum harus cepat karena kalu lama nanti sawahnya takut banjir. Saya terus jalan tapi Mentor Totok keliatannya salah jalan sama yang lain. Karena saat salah jalan, laki-laki dari peserta saya saja. Untung saja hujannya tidak lama. Ternyata yang laki-laki semua jalan sama Mentor Badung. Tapi akhirnya ketemu juga sama yang lain.
Saya tertawa saat di ceritakan Iko kalau si Ngorok jatuh di sawah. Semua terus berjalan mendekati air terjun. Setelah sampai didekat air terjun saya sangat senang karena saya kira akan camp dekat sini. Di sini kami semua berfoto dan sambil istirahat. Setelah istirahat ternyata kami masih melanjutkan perjalanan ke atas. Saya sangat capek sekali karena medan yang saya tempuh naik dan sangat tinggi. Saya kasihan sama Keli karena dia keram. Saat dibelakangnya Keli saya membantu dia untuk berdiri tapi dia keram di kedua kakinya. Lalu Mentris Mai membantu Keli dan saya disuruh untuk segera jalan karena tinggal sedikit lagi sampai di camp.
Setelah sampai semua terlihat letih sekali terutama Minarti dan Nina. Kata Mentor Totok ini adalah camp darurat karena kondisi teman semua keliatannya tidak kuat. Karena hari mulai gelap, kami semua disuruh segera buat bivoak. Setelah ditunjukkan tempatnya kami langsung membuat bivoak dari bambu yang di kasih. Saya tidak bisa membuatnya sampai Mentor Badung marah-marah sama saya. Saya juga capek sekali karena pasak dari bivoak selalu lepas dan saya minta Bantu si Iko sama Anget buat bikin bivoak. Tapi akhirnya jadi juga dan saya ganti celana di luar dengan udara yang sangat dingin. Kemudian saya mengambil air untuk masak bersama Iko dan Slawi.
Ngambil airnya susah karena saya memakai botol aqua 3 dan salah satunya tidak ada tutupnya. Setelah itu saya masak bersama teman kelompok saya. Saat bikin minuman saya campur dengan madurasa dan x-tra joss jahe yang masih susah juga bikin nasi soalnya nasinya masih berasa crispy. Kemudian ketua masing-masing kelompok laporan. Saya mengasih garam disekitar bivoak karena banyak pacet dan bekicot. Setelah laporan semua disuruh ke tenda panitia untuk general review. Disana kita mengkilas balik kegiatan hari ini apa saja yang telah dilakukan. Di sini Mentor Totok menanyakan tentang hal apa yang yang dapat diambil didalam hari ini, hal konyol yang terjadi, pengalaman terindah hari ini dan hal yang ingin dirubah. Saya hanya merenungi dan meresapi apa yang dikatakan oleh Mentor Totok. Kemudian gara-gara tadi siang nangis si Minarti diganti namanya jadi MEWEK, Nina diganti namanya jadi NYIKNYOK dan Retno diganti namanya jadi CULAS (Curang dan Pemalas). Terus jam tangan yang saya lihat di sungai ternyata diambil oleh Mentor Totok dan itu jam tangan kepunyaannya Wahyu.
Seusai general review saya dan teman-teman makan di bivoak. Di bivoak saya selalu melihat kaki saya karena takut ada pacet di kaki. Gara-gara serasa ada pacet saya menumpahkan air di matras. Setelah selesai makan saya memberi garam yang banyak disetiap sudut bivoak agar binatang seperti pacet tidak masuk. Kemudian saya tidur dengan pulas karena kecapean. Saya tidur dengan banyak garam diatas kepala dan angin yang sangat dingin.
Minggu 28 Desember pagi, Saya bangun sangat kedinginan karena anginnya sangat kencang. Saya bangun dan langsung ganti celana pas dingin banget. Kemudian saya apel pagi bersama teman semua. Saya sangat ingin sekali tertawa saat Ubi diberi nama panjang menjadi Ubi Temon ( Ujung Bibir Terlalu Monyong) dan si Nyengir diganti lagi namanya jadi PETAK (Petakilan).
Kemudian kita semua diajarkan menyanyi oleh Mentor Madun. Jadi saya senam sambil menyanyi. Saya juga kurang apal lagunya jadi ikut-ikut aja. Setelah itu si Iko diganti namanya jadi KOI dan si Wahyu jadi BULE (Buluk Sekale). Kemudian semua di suruh baris dan dikasih permen bekas emutan Mentris Cengki dari ujung ke ujung. Setelah itu kami diperintahkan untuk memasak.
Seperti biasa saya dan teman kelompok berbagi tugas. Sekarang saya yang memasak bareng Petak dan Gigil. Terus si Ubun dan Ubi Temon nge-packing barang yang berantakan. Udah jadi masakannya saya dan teman-teman semua melapor sekalian juga membawa makanannya semua. Saat melapor yang lucu itu si Ubi Temon disuruh gaya Tukul yang tepok-tepoknya, si Koi dikasih nama panjang yaitu Kodok Bintit juga pake gaya kodok sambil lompat-lompat sama Mentor Manto. Abis selesai lapor saya makan rasa nasinya masih aja crispy. Saat makan Mentor Hilal bilang nanti kalau makan semuanya harus serba satu dalam kelompok. Jadi setiap kelompok bawa satu piring, satu gelas dan satu sendok saja.
Abis makan kami disuruh nge-packing barang yang belum masuk. Saat itu saya sangat haus sekali. Karena air tinggal dikit jadi saya minum sedikit saja mengingat perjalanan masih jauh. Setelah barang masuk kedalam cariel saya dan semua disuruh baris memakai cariel. Saya sangat kepanasan karena matahari terlalu terik sekali. Tapi akhirnya caril di suruh lepas. Dan kami di ajarkan menyanyi 2 lagu oleh Mentor Manto dan Mentor Bejat . Salah satunya yang saya apal saat itu adalah nyanyian burung bangau.
Abis diajarin nyanyi kita bermain games sama Mentor Bejat. Jadi mainnya kejar-kejaran, kita bikin lingkaran dan ada 2 pemain yang bekejaran yaitu si Bule dan Culas, yang bikin lingkaran ngejagain Culas supaya dia nggak ketangkap oleh Bule. Ternyata si Wahyu tidak bisa menagkap Culas. Saya sangat senang sekali saat itu walaupun cuaca sangat panas sekali. Abis main saya duduk-duduk sama yang lain. Rasanya kaya dipanggang soalnya mataharinya panas sekali. Abis itu saya dan semua bersiap untuk berangkat menggunakan cariel. Sekarang perjalanan dipandu sama Mentor Totok.
Saya sangat bersemangat sekali saat ini. Soalnya daripada kemarin dibelakang terus sekarang saya selalu didepan walaupun jalannya naik terus. Tak lama saya dan yang lain menemukan sungai yang tidak begitu besar. Dan kata Mentor Totok kalu mau ngambil air ngambil aja disini. Karena air saya tinggal dikit saya ambil saja. Tak lama ngambil air saya melanjutkan perjalanan. Sudah berjalan cukup jauh saya dan yang lain beristirahat di dekat rumah warga sambil menunggu panitia yang lain. Setelah beristirahat lama semua melanjutkan perjalanan.
Di siang itu sangat panas sekali. Saya dan yang lain berjalan melewati rumah-rumah warga. Lumayan jauh saya berjalan semua beristirahat lagi di dekat kandang kambing rumah warga. Saat itu Mentor Totok bilang jangan minum banyak-banyak karena keringat yang kita keluarkan akan banyak dan dia juga bilang kita tidak akan melewati track yang harus kita lewatin seharusnya. Karena track yang aslinya medannya sangat berat. Dia kasihan melihat NyikNyok dan Mewek keliatannya tidak kuat.
Tak lama kita istirahat semua melanjutkan perjalanan dengan Mentor Madun. Saat berjalan saya melihat pemandangan yang sangat indah dan rumah warga serta ada jajanan. Saya jadi kepengen melihat jajanannya, tetapi Mentor Madun menyuruh semua segera cepat. Saya saat berjalan heran dengan Mewek karena dia sangat kuat sekali sekarang. Padahal kemarin dia sempat nangis dan minta pulang. Sudah cukup berjalan jauh Mentor Madun menyuruh istirahat sejenak untuk minum. Seperti biasa si Petak dan si Ngorok selalu minta minum dengan saya.
Setelah minum saya berjalan lagi. Dan tak jauh saya dan yang lain beristirahat di lapangan. Saya lihat ada anak dari salah satu warga sedang belajar naik motor bersama bapaknya. Saya jadi inget orang tua saya. Disana Mentor Madun memberikan minuman yang bewarna merah. Seperti biasa di bagi dari ujung ke ujung. Di sini Mentor Madun selalu memberikan pertanyaan yang membuat saya bingung menjawabnya karena apapun jawabannya selalu disuruh push up. Dan kami juga olahraga mulut lagi sama Mentor Madun. Tak lama saya dan yang lain berjalan lagi.
Ditengah perjalanan seperti biasa ada istirahat sejenak untuk minum. Jalan yang saya tempuh sangat jauh sekali dan juga medannya lumayan berat. Saya juga sangat capek sekali kalau dibelakang Nyiknyok atau Culas karena mereka jalannya lambat sekali. Ditengah perjalanan kami istirahat di dekat batu-batu dan ada warung. Saat istirahat saya di beri jeruk sama Mentor Manto buat dibagi-bagi semua. Selesai istirahat,semua berangkat lagi saya dan Ubun selalu ingin di depan.
Siang ini sangat panas sekali. Dijalan saya sangat senang sekali karena pemandangan dari atas sini sangat sini. Setelah berusaha berjalan terus dan istirahat sejenak si Petak selalu minta minum sama saya. Di jalan saat air saya mau abis, saya minta sama Ubun atau Si Bule. Medan yang ditempuh kali ini selalu naik terus. Setelah sangat jauh saya dibilang mentris Mai buat ngambil air kalau mau minum di pipa buat pengairan sawah. Kebetulan sekali pipanya terbuka sedikit atasnya. Jadi saya bisa ngambil airnya. Tapi tidak segampang yang saya kira. Karena airnya harus disangga dahulu baru airnya muncrat. Setelah dapat ½ botol saya langsung minum. Airnya sangat segar dan dingin. Dan seperti biasa yang lain pada minta. Terus Jackpot minta ambilin airnya buat botolnya. Karena air sudah penuh saya dan yang lain melanjutkan perjalanan.
Sudah jauh berjalan Mentor Madun menyuruh kita akan makan siang dipinggir jurang dan untuk masak airnya mengambil dari pipa air yang nyambung dengan pipa air yang tadi kita ambil. Saat ini saya yang memasak sama kelompok semua. Saya mencari posisi di bawah pohon untuk masak. Saya membuat kompor bikinan dari batu. Setelah masak selesai ketua kelompok 2 hari ini si Ubi Temon melapor sama ketua kelompok yang lain. Saya mempersiapkan makanan karena tadi kata Mentor Hilal harus serba satu semua. Setelah selesai lapor saya dan teman semua makan cepat-cepat karena waktunya terbatas. Akhirnya selesai saya dan semua melapor karena sudah selesai makan. Saya dan yang lain diperintahkan untuk mepacking dan mengambil persediaan air diisi di drigen dan untuk minum. Karena takutnya air diatas tidak ada. Saya ngambil di botol buat minum diperjalanan, sedangkan si Ubun mengambil air di drigen buat masak malam.
Setelah berberes kami berbaris memakai cariel. Kami semua disuruh berbaris lurus, tetapi karena jalannya belok susah ngelurusinnya. Ketika baris saya dikasih sebuah daun sama Mentor Manto katanya disuruh makan. Lalu saya makan saja daun itu. Setelah itu kami semua melanjutkan pejalanan. Saya berjalan selalu bersama Ubun di depan. Dan kami juga berbagi air kalau kehausan dijalan. Ketika saya beristirahat dengan Ubun di jalan. Saya melihat 2 mobil yang melewati jalan kita. Setelah duduk lama Slawi datang dan si Ubun melanjutkan perjalanan sedangkan saya masih duduk bersama Slawi. Kemudian serasa sudah cukup istirahat, saya dan Slawi melanjutkan perjalanan di belakang saya ada Mewek.
Saya sangat salut sama mewek karena sekarang dia kuat dan tidak mengeluh lagi. Saya, Slawi dan Mewek jalan bertiga mengikuti jalan yang ada. Saya juga heran ternyata mobil yang tadi lewat ada rumah didekat sana dan jualan air. Saya jadi haus melihatnya. Tetapi sesuai Tatib saya tidak boleh jajan. Supaya tidak termakan suasana saya bernyanyi burung bangau bersama Slawi di jalan. Di jalan kami bertemu Mentris Arum, Mentor Manto dan Pak Yakin.
Dijalan saya melihat sebuah villa yang bagus dan langsung berbicara becanda pada Pak Yakin “kita salah jalan nih pak bukannya harus ke villa nih”. Saya ketawa dan Pak Yakin juga tertawa. Sudah cukup jauh berjalan saya dan Slawi duduk untuk minum, Mentor Manto juga ikut duduk di rumah kecil. Tetapi saya kaget lagi sama Mewek karena dia tidak mau istirahat dan terus melanjutkan perjalanan. Sambil istirahat saya di Tanya Mentor Manto “teman lu, lu apain tuh bisa sampai begitu”.
Saya juga tidak tahu kenapa Mewek kaya gitu. Saya dan Slawi melanjutkan perjalanan. Di depan terlihat Mewek sedang jalan dan kami berdua melewati Mewek lagi. Terus berjalan akhirnya bertemu panitia yang lain sedang duduk dekat kali kecil. Saya langsung beristirahat dan duduk sambil menunggu teman yang di belakang.
Sudah cukup Istirahat saya melanjutkan perjalanan didepan bersama Ubun, Slawi Dan Ubi Temon. Di jalan pemandangan indah sangat terlihat sekali. Saya tidak menyangka karena bisa setinggi ini. Dijalan saya juga nyanyi-nyanyi sama Slawi. Ditengah jalan juga saya sering istirahat untuk minum. Cukup jauh berjalan saya bertemu Mentor Badung dan Pak Yakin sedang duduk didekat rumah warga. Saya juga langsung duduk dan minum. Tak lama istirahat saya melanjutkan perjalanan lagi. Saya berjalan terus berusaha buat sampai ketempat berikutnya. Akhirnya sampai dimana tempat panitia istirahat. Sampai disana saya langsung duduk dan minum sambil menunggu yang lain datang. Setelah ngumpul semua disuruh baris. Setelah baris kami disuruh Mentris Arum buat nyanyi burung bangau mabok dan kesetrum.
Kemudian Mentor Manto memerintahkan semua buat nyari buah arbei. Saya mendapatkan buahnya satu dan memakannya. Di ketinggian segini katanya banyak tumbuh buah arbei. Selain itu juga nyari buah yang warnanya hitam kecil mirip kaya anggur tapi lebih kecil. Abis semua nyari dan makan semua berangkat karena hari sore. Perjalanan dipandu sama Mentor Madun, saya sangat takut karena dia selalu marah kalau tidak cepat. Saya selalu jalan cepat. Hingga dibelakang Mentor Madun hanya ada saya, Ubun dan Slawi.
Mentor Madun jalannya sangat cepat walaupun membawa cariel yang berat. Tetapi saya terus mengimbangi Mentor Madun dan yang lainnya. Sudah jauh saya berjalan akhirnya berhenti juga. Mentor Badung sudah duduk menunggu. Saya langsung istirahat dan minta minum sama Ubun karena air saya abis. Sambil menunggu yang lain saya duduk-duduk. Tak lama waktu istirahat karena hari mulai gelap. Terus berjalan akhirnya kata Mentris Dewi tinggal dikit lagi kita sampai. Katanya kita akan bikin bivoak deket musholla yang tadi kita liat dari atas. Karena tinggal dikit lagi saya semakin semangat karena saya ingin buru-buru istirahat.
Akhirnya sampai juga ditempatnya. Saya disuruh baris dan melapor. Saat melapor Mentor Rhea memfoto semua sendiri-sendiri. Abis laporan saya disuruh membuat bivoak karena hari sudah menjelang malam dan disuruh memasak. Saat membuat bivoak tempatnya di pilih oleh Mentor Bejat. Seperti biasa kelompok saya membagi tugas. Yaitu saya, Ubun dan Ubi Temon membuat bivoak sedangkan Petak dan Gigil ada yang membabat rumput dan mencari pasak. Saya salah saat membuat simpulnya jadi saya diomelin sama Mentor Bejat dan Mentris Arum. Setelah diajarkan mereka saya baru bisa membuatnya.
Selesai membuat bivoak si Ubi Temon melapor. Di daerah ini anginnya sangat kencang sekali, sehingga membuat saya sangat kedinginan tetapi tidak boleh memakai jaket. Saat memasak karena paraffin tinggal sedikit saya harus mengiritnya. Karena mengirit saya mencari kayu yang bisa terbakar sama Ubi Temon. Saat memasak saya meniup apinya supaya kayunya terbakar. Setelah semua selesai semua melapor dan membawa makananya ke Mentor Hilal.
Setelah laporan kami makan, sambil masing-masing kelompok berbagi. Kemudian melapor lagi. Pada saat melapor saya sangat kedinginan karena anginnya sangat kencang sekali. Setelah itu kami disuruh ganti baju dan memakai jaket, lalu kembali ketenda panitia untuk general review. Pada saat ganti baju saya sangat susah dan dingin. Karena waktu abis saya terpaksa tidak memakai sandal akhirnya saya memakai PDL. Malam itu angin sangat kencang sekali.
Saat general review saya disuruh diduduk dibelakang Culas dan saya disuruh menilai perilaku Culas. Disitu banyak pertanyaan dan ada juga yang ketahuan ingin beli jajan oleh Mentor Bejat. Si Ngorok pada saat itu juga diganti namanya jadi AGUS (Anak Gorilla Otak Konslet). Pada saat itu saya takut juga karena bertepatan dengan malam satu suro. Setelah itu kami disuruh tidur.
Setelah merapikan barang saya tidur. Menurut saya bivoak kali ini enak sekali karena lebar dan luas. Saat mau tidur saya mendengar suara plastic, saya jadi sangat takut. Ternyata setelah dicek itu ada anjing warga. Saya sangat lucu karena si Ubun saking takutnya itu dibilang serigala. Abis itu saya tertidur pulas.
Tanggal 29 Desember Pagi, dibangunkan pagi sekali. Saya bangun dengan kebelet kencing, lalu saya kencing dibalik pohon. Saya bingung mencari cariel dan terpaksa push up karena terlambat. Saya melakukan apel pagi hari ini si Petak jadi ketua kelompok 2. Saya melakukan senam dan menyanyi-nyanyi. Ketika sedang baris sama Mentor Manto tiba-tiba Mentor Madun datang memberi air teh pada semuanya. Pada saat ini Mentor Madun lagi serius jadi kalau ada yang ketaw dia langsung nyuruh push up, saya jadi takut.
Lalu kami disuruh masak, tetapi nasinya harus matang kalau tidak matang harus diulang. Kemudian saya, Petak, Gigil masak dan Ubun dan Ubi Temon beresin barang berantakan. Pertama saya memasak nasi. Saya kebingungan karena parafin tinggal dikit sekali. Saya berniat mengiritnya. Setelah nasinya lumayan matang dan waktunya pun sudah abis saya membawa semua makanan dan melapor. Semua diomelin karena nasinya masih crispy. Semua disuruh sampai benar-benar matang.
Saya sangat kasihan sama kelompok 3 karena nasinya belum jadi sama sekali. Akhirnya semua masak lagi dan menambahkan air pada nasi yang masih crispy. Karena waktunya abis saya bawa nasinya, tapi sekarang nasinya sudah matang. Karena kelompok 3 nasinya tidak matang kelompok saya memberi nasinya buat kelompok 3. Selesai makan saya dan semua diperintahkan untuk packing.
Setelah packing langsung ke Mentor Totok. Semua belajar navigasi lagi disana buat mengetahui letak kita dimana sekarang. Semuanya tidak bisa. Setelah belajar navigasi semua bersiap untuk berangkat. Saya kasihan sama Nyiknyok karena sepatunya mau copot. Setelah itu semua berangkat. Saya sangat bersemangat sekali. Tetapi medan yang ditempuh sangat terjal sekali. Berjalan naik dan melewati pohon bambu yang tinggi-tinggi. Seperti biasa ditengah jalan saya pasti beristirahat sejenak. Dan terus berusaha supaya sampai. Tak terasa waktu sudah siang. Semua berhenti dijalan untuk belajar survival. Disana disuruh makan yang namanya Begonia. Saya kalau makan begonia sangat enak sekali rasanya seperti belimbing sayur. Setelah di beritahu tanaman yang bisa di makan semua disuruh mencari pohonnya dan membawanya setelah mencari lama akhirnya dapat juga. Setelah itu semua disuruh masak dan makan siang disini.
Saat masak saya lihat kelompok 3 lagi-lagi nasinya tidak jadi. Tapi kebetulan karena nasi yang di masak kelompok saya banyak juga. Sebelum makan semua laporan terlebih dahulu. Seperti biasa semua saling berbagi makanan. Setelah makan Mentor Rhea menyuruh membawa kayu dan webbing lalu naik keatas menemui Mentor Madun buat belajar SAR. Sesampainya diatas saya disuruh menerobos lurus yang ada di depan saya, lagi-lagi Mentor Madun marah. Setelah itu semua melanjutkan perjalanan sebelum jalan semua harus pakai ponco karena cuaca mau hujan.
Saya berjalan turun. Karena licin saya sering terpeleset. Ditengah jalan si Petak minta tolong saya supaya ngambil pacet yang ada di ponconya. Saya di omelin Mentor Madun karena membantu Petak soalnya jalannya jadi terhambat. Saya langsung jalan cepat. Terus mengikuti Mentor Madun berjalan sudah lama berjalan melewati kali kecil. Dan terus berjalan. Untungnya hujan cuma sebentar dan tidak deras. Setelah berjalan lama akhirnya terlihat tempat camp panitia yang tendanya sudah terpasang.
Saya turun menghampiri tenda panitia tersebut. Setelah sampai saya dan semua melapor. Setelah lapor semua diperintahkan untuk membuat bivoak. Mentor Bejat menunjukkan lokasi tempat kelompok 2. seperti biasa semua berbagi tugas saya membuat simpul dengan si Ubun, Ubi Temon meratakan tanah yang buat tidur, dan Petak sama Gigil mencari pasak. Setelah jadi bivoaknya semua laporan dan saya sangat kaget saat di kasih ular. Kemudian semua disuruh memilih Mentor yang jahat, saya memilih Mentor Madun karena dia selalu marah-marah. Lalu selesai itu diperintahkan buat memasak.
Karena parafin menipis jadi saya masak harus tetap mengirit. Tetapi nasi harus matang. Ketika sedang memasak saya dan semua disuruh merem dan makan jengkol terus saya jijik banget pas nyikatin gigi temen yang pada belom mandi. Selesai masak semua laporan. Lalu makan bersama semua. Kemudian selesai makan saya dan semua disuruh mengganti baju yang hangat dan balik lagi ke tenda panitia. Saya sangat senang sekali karena ini malam terakhir.
Ketika sedang ngobrol semua ditanyakan siapa yang ingin digampar??? Semua pada diam termasuk saya kecuali si Agus. Yang diam saja disuruh berdiri buat milih Mentor apa Mentris. Saya tadinya mau milih Mentor Manto eh malah keduluan sama Gigil. Jadi sama milih ABG 1. Karena ABG 1-nya tidur dia diwakilin sama Mentor Badung. Saya disuruh push up sebanyak 5 seri. Saya sangat lucu saat sia Agus bending karena kaya gorilla. Makanya dia diganti namanya jadi AGOK (Anak Gorilla Otak Konslet). Karena sudah malam semua disuruh balik ke bivoak dan tidur. Saat balik kebivoak saya kaget karena Ubun teriak didalam ternyata ada Mentris Arum, Mentris Dewi dan Mentor Gepeng. Setelah itu saya tidur. Posisi tidur saya tidak enak sekali karena sempit dan saya hampir di luar. Saya tidak nyaman sekali karena Ubun tidurnya tidak benar. Tapi saya bisa tidur sampai pagi.
Tanggal 30 Desember pagi semua dibangunin sama Mentor Madun. Semua bersiap buat ganti pakaian. Saat apel pagi saya telat datang sehingga tidak dipedulikan sama Mentor Madun. Sampai saya mengigil kedinginan, tetapi akhirnya hukumannya push up 5 seri. Saya sangat takut saat Mentor Madun marah sama Ubun dan dia melotot. Abis itu saya masak bareng yang lain. Badan saya dingin sekali. Habis masak semua laporan dan makan bersama lagi. Kemudian semua disuruh packing tanpa membereskan bivoak.
Dihari yang terakhir saya kira tidak ada apa-apa ternyata ada uji mental setelah disuruh balik ke bivoak untuk packing kami menunggu giliran. Pertama dipanggil Mentor Hilal buat membakar dan mencuci nesting sampai bersih. Setelah itu disuruh lari dan merangkak di lumpur. Terus saya di bawah air sangat kedinginan ketika ditanya Mentris Arum dan di suruh mencari Mentor Madun. Setelah itu di suruh memakai Lumpur ditangan dan dimuka. Yang lebih lucu lagi saya disuruh menari saman sama Mentor Bejat. Padahal saya tidak bisa menari saman. Akhirnya asal-asal aja.
Abis itu matahari terik banget terus muka ancur banget pake Lumpur. Di pos 2 saya ditanyain tentang apa yang saya beri jika sudah menjadi anggota. Saya jawab saya akan menjaga nama baik wanaprasta. Setelah itu saya ke pos 3 sambil menunggu saya duduk dilapangan sangat panas sekali. Abis itu saya dipos 3. sebelum ditanya harus cuci muka dahulu. Habis cuci muka saya banyak ditanya juga sama Mentor Hilal. Saya untung bisa menjawab pertanyaanya. Habis itu saya ke Pak Yakin saya diberi banyak nasehat. Setelah selesai semua saya mengambil kacamata saya sama Mentor Hilal dan di suruh mandi di musholla.
Saya dimusholla mandi dengan bersih. Setelah bersih saya balik ke bivoak dan membereskan barang karena sudah ditunggu semuanya buat merapihkan bivoak. Semua sudah siap dan berangkat lagi jalan. Saya sangat senang karena akan pulang dan saya sudah melihat trontonnya. Ketika ditengah perjalanan saya kaget sekali katanya akan ditambah 2 hari lagi buat melajarin materi yang belum dikasih. Terus saya naik trontonnya. Ditronton semua pada nyanyi. Karena ngantuk saya tidur saja.
Ketika bangun tidur saya heran, katanya mau kegunung kok lewat jalan tol. Akhirnya ketahuan panitia bohong. Yang lebih lucu lagi si Culas ngomong masih di puncak. Padahal udah di Tanah Kusir. Tinggal dikit lagi sampai semua bernyanyi. Setelah sampai semua berbaris dan masuk keruangan. Di situ ditanya sama Mentor Madun dan banyak yang disuruh push up. Nunggu yang angkatan ketiga datang yaitu Mentris Yuli lalu semua berdialog dengan dia. Yang paling menyentuh hati adalah saat Mentor Raden berbicara dan saya memejamkan mata. Saya menangis dan langsung sholat terus berdoa buat orang tua. Terus semua berdialog dengan Mentor Raden.
Setelah itu sambil menunggu persiapan upacara saya bercerita yang lucu-lucu sama yang lain. Habis itu semua dipanggil dan melakukan upacara penutupan. Saat upacara berlangsung saya ingin tertawa karena si Gigil salah. Setelah upacara saya ganti baju dikamar mandi sekolah. Kemudian makan bersama-sama dengan yang lain. Saya kaya orang kelaperan baru liat makanan enak. Kemudian saya merapikan barang dalam cariel dan membawa baju yang kotor ke rumah. Saya jalan kaki ke depan angkot CO1 dan naik angkot terus turun diimpres dan naik ojek sampai rumah. Sampai rumah saya langsung salim sama orang tua saya dan menceritakan kegiatannya sebagian. Lalu saya ganti baju dan langsung tidur.