RSS

Arsip Tag: pemanasan

Hot, Hot, Hooot…

Bener ga sih, semakin hari, matahari kita ini tambah galak aja? Sampe sampe, malem aja kita kegerahan terus. Padahal, bukannya seharusnya ini musim hujan? Kita semua mungkin ngerasain kan gimana rasanya kena terik matahari di siang bolong. Tapi, klo kena matahari sampe kulit gosong, terus beberapa hari kemudian pecah pecah terus ganti kulit kaya uler pernah ga?

Kawan… Air laut pasang, musim mudah berubah dan tidak jelas, malaria dan demam berdarah kian mengganas, dan masih banyak lagi peristiwa memprihatinkan akibat pemanasan global. Apa yang mesti kita lakukan?

Nah, pengen cerita aja nih. Akhir tahun 2008 kemarin, anak anak Wanaprasta, Pecinta alam SMA N 90 Jakarta ngadain yang namanya SAWP. Itu singkatan dari Sekolah Alam WanaPrasta. Karena selama lima hari terus terusan bejemur (namanya juga kegiatan alam bebas..) dibawah matahari, alhasil, banyak yang jadi ular selepas balik dari sana. Hampir semua yang berangkat ganti kulit. Kita juga sepakat waktu di lokasi, panas matahari bener bener bikin pedih kulit. Padahal tahun tahun yang lalu ga separah ini.. ini fenomena alam yang relatif (jadi inget Einsten.. hehe..) baru terjadi beberapa tahun terakhir doang. Yang jelas dulu ga gini. Tanya kenapa?

Apakah fenomena ini ada sangkut pautnya sama yang banyak diomongi orang di tipi, koran sama radio soal pemanasan global ato bahasa sundanya, Global Warming? Hmm… mungkin juga sih. Jadi, asik juga kayanya nih kalo kita obrolin soal nni..

Setelah ngubek ngubek dunia maya dan spiritual soal ini, hehe.., akhirnya kita dapetin gambaran singkat soal tema ini. Abis itu kita obrolin lagi deh soal ini di lingkaran depan sekret tercinta.. disebut lingkaran knp, abis duduknya ngelingker sih..

Ternyata nih, ENG.. ING… ENG…, bukannya sok tau ye, tapi dari sumber gosip para ilmuwan yang (kayanya) bisa dipercaya, rupanye nih, Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Pemanasan global ini katanya juga disebabkan oleh (bahasa sundanye.. he..) “green house effect” atau yang biasa kita kenal dengan Effek Rumah Kaca. Yang di rumahnya gak punya kaca diem aja ye.. baca aje nyang bener! :p

Lanjuuut….!

Nah, Efek rumah kaca ini sendiri disebabkan karena naiknya konsentrasi (kaya mo ngeluarin tenaga dalem aja) gas karbondioksida (CO2) dan gas gas lainnya di atmosfer. Penyebab naiknya konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuh tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. (buka kamus lagiii… :)

Dari sini kita bisa tau kenapa kulit kita jadi gampang ngeletek kaya kemaren. Ternyata Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah pola presipitasi. Akbat akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhinya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Pokoknya semua nyang ekstrim ekstrim dah.. termasuk panasnya nyang kebangetan kaya kemaren ntu..

Penyebab Pemanasan Global = > Efek Rumah Kaca

Oke. Kita serius dikit nih. Kali ini soal Efek Rumah Kaca. gambar dari KLHBro n sist, Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. waktu energi ini tiba di permukaan bumi ia berubah dari energi cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.

Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata rata tahunan bumi terus meningkat. Gas gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan demikian meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Paham kan? Kan? Kan?? Intinya, TERPERANGKAP…. NYANGKUT… KETAHAN… wat ever lah..

Teruuuuss… Dampak dari Pemanasan Global ini adalah (titik dua)

  • Iklim mulai tidak stabil. Musim ga jelas..
  • Peningkatan permukaan suhu global (bumi secara rata rata keseluruhan) cenderung meningkat
  • Permukaaan air laut meningkat
  • Gangguan ekologis. Ekologis? Buka kamus ato wikipedia… hehe..

Pengendalian Pemanasan Global

Cuy, katanya pemanasan global ini bisa dikendalikan. Salah satunya dengan Menghilangkan karbon.

Cara yang paling gampang untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi.. kerjaan kita banget kan??!

Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya.

Di seluruh dunia nih cuy, tingkat perambahan, pembabatan, sama eksploitasi hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan banget. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini ya dengan penghutanan kembali. Penghutanan kembali ini berperan untuk mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. (aquifer??? Buka kamuuuuussss)..

30 Penyakit Baru Muncul Akibat Pemanasan Global

Nah kali ini buat yang perhatian sama kesehatan nih. Perhatiin yee…! Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang tahun 1978-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup (dari WHO juga), Amanda Katil Niode mengatakan munculnya penyakit ini karena temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat.

Yang paling jelas kelihatan penyakit demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat mematikan. Apa?? Bisul?? Ah, itu mah udah lama kaleee.. gak ada urusan sama Global warming.

Lanjuut..

Pemanasan global memang sangat dirasakan parahnya oleh negara-negara berkembang yang sebagian masih miskin karena minimnya dana sehingga tak mampu lagi melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat. Indonesia masuk kategori ini gak ya… :P

Untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan manusia itu, tidak bisa dilakukan sendiri oleh masing masing negara. Upaya ini baru akan berhasil klo dilakukan melalui kerjasama global, seperti misalnya meningkatkan pengawasan dan pengendalian penyakit penyakit infeksi, memastikan penggunaan air tanah yang kian surut, dan mengkoordinasikan tindakan kesehatan darurat.

Brosis (brother sister), perhatiin nih..

November lalu, sengatan matahari mengganas, menyengat tak terkira. Udara kering selama beberapa hari mempercepat rasa haus di kerongkongan. Padahal, beberapa minggu sebelumnya di akhir bulan oktober, hujan mengguyur bumi tiada henti selama kurang lebih dua minggu. Saat itulah, para petani di jawa merasa punya harapan. Mulailah bibit padi ditanam. Tak disangka iklim berganti wajah dengan cepat. Hujan bukannya dituntaskan hingga Februari tahun depan, malah berhenti di tengah November. Sebaliknya, panas, kering, dan terik matahari memancar ke bumi dengan ganasnya. Hingga sengatan di kulit terasa bagai jilatan api.

42-15832880Padi yang sudah ditanam, mati di usia muda. Musnahlah harapan para petani untuk memanennya di tahun depan. Selang beberapa minggu, hujan kembali menghujam bumi tiada henti. Banjir pun datang melebar kemana-mana.

Flu, batuk mulai dirasai banyak orang akibat lembabnya udara. Penyakit lain pun mulai bermunculan, dari diare, demam berdarah, hingga malaria. Di beberapa rumah sakit, pasien demam berdarah, anak-anak sampai orang dewasa terpaksa dirawat di selasar, saking melimpahnya jumlah pasien.

Pusing, repot dan bingung dialami semua orang akibat perubahan ini. Ya, kita sedang mengalami perubahan iklim. Tak hanya di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan WWF (World Wide Fund of Nature) menunjukkan, 33 persen habitat di muka bumi memiliki resiko tinggi bakal habis, bahkan beberapa tanaman dan spesies hewan telah punah. Beruang kutub misalnya, sangat terancam punah jika permukaan es samudra Artik terus mencair secara drastis. Akibat Global Warming??

 
4 Comments

Posted by pada 27 Januari 2009 in Obrolan Ilmiah

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.