Sore itu, Klo ga salah harinya hari sabtu, tanggal 20 Desember 2008. Matahari udah ga terlalu tinggi. Sekolah masih rame. Ada yang latihan silat di lapangan voli, ada juga yang latihan basket. Tentunya di lapangan basket. Di ujung lapangan lainnya ada juga yang belajar baris. Katanya sih anak paskibra. Kita sendiri lagi asik duduk ngelingker di depan sekretariat tercinta.. ngelakuin kerjaan yang gak kalah bermanfaatnya. Ngobrol.. hehe… eit tapi nanti dulu! Jangan mikir yang jelek dulu. Kita emang ngobrol, tapi apa dulu yang kita obrolin.. nah ini yang pengen kita bagi ke teman semua..
Pernah denger ga apa yang disebut sama Lubang Resapan Biopori ato biasa disingkat jadi LRB? Kita juga ga tahu kenapa topik ini yang dibahas. Yang jelas, ada seorang alumni rese yang tau tau nyuruh kita nyari info soal biopori. Ya, dengan kerja keras ngubek ngubek internet. Dapet lah kita bahan yang dibutuhin ini. Soal hasil obrolannya, begini ceritanya..
Ternyata bro n sis, Biopori itu adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktifitas organisma di dalamnya. Organisma ini seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Nah ini yang disebut sam alubang biopori..
Gambar1.
intinya, gambar ini Menunjukan foto melalui mokroskop elektron yang menggambarkan dua buah lubang yang terbentuk oleh cacing (pada lingkaran kuning bagian atas) dan lubang yang terbentuk akibat aktifitas akar tanaman (pada lingkaran kuning bagian bawah. Klo lubang-lubang seperti ini bisa dibikin dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah. Geto! Bahasanya ketinggian ga sih? Ngga kan?! Lanjuuut..!
Ato dengan kata lain, kalo aliran air dipermukaan berkurang, maka bakalan bisa ngurangin bahaya banjir yang mungkin terjadi. Peningkatan jumlah biopori tersebut dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal ke dalam tanah. Lubang lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik (yang bisa hancurkan secara alami dengan cepat), seperti sampah sampah organik rumah tangga. Potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan orhganik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehingga aktifitas mereka akan meningkat. Dengan mingkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk. Begito lho.. nyambung kan? Bagus bagus. Kita yakin teman teman pada pinter. Hehe…
Kesinergisan (waduh maksudnye ape nih?) antara lubang vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang-lubang ini dimanfaatkan sebagai lubang peresapan air artifisial (waduh apa lagi ini? Cari sendiri di kamus ya :p) yang relatif murah dan ramah lingkungan. Lubang resapan ini selanjutnya diberi julukan LUBANG RESAPAN BIOPORI atau disingkat sebagai LRB.
Bro n sis, Kondisi kota gede seperti DKI Jakarta tercinta yang memiliki lahan resapan air yang sangat sedikit sekali disertai dengan penggunaan air tanah yang sangat berlebihan menyebabkan penurunan permukaan tanah serta mengakibatkan sulitnya untuk mendapatkan air berkualitas baik dan cukup di kawasan tersebut. Percaya gak sih kan kalo permukaan tanah di jakarta ini semakin menurun? Terserah percaya ato ngga. Tapi yang jelas faktanye begitu lho.. ck..ck..
Dengan demikian keseimbangan lingkungan yang harus terus menerus dilestarikan dan dijaga pun semakin rusak dan tidak terkendali. Untuk itulah diperlukan adanya gerakan pelestarian alam sekitar yang dilakukan secara bersama sama oleh semua pihak serta berkesinambungan. Eng ing eng.. jadi merasa terpanggil.. yang ngga merasa, jangan ngaku pecinta alam! Hihi…
Nah, cuy, Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mencegah mengalirnya air hujan ke selokan yang kemudian terbuang percuma ke laut lepas adalah dengan pembuatan lubang biopori resapan atau LBR. Hhmmm..
Arti definisi dan pengertian lubang biopori, klo menurut www.organisasi.org (liat aja sendiri klo ga percaya) adalah lubang yang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membanatau pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan.
Setelah kit asemua tau arti dan definisinya, kita juga bisa ngeliat bahwa Tujuan/ Fungsi / Manfaat/ Peranan Lubang Resapan Biopori/ LRB itu bisa dilihat seperti ini:
1. Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah
2. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar. Biar ga jadi asep juga. Ya nggak cuy!
3. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Aides aegepty, sodara ente, hoby berenang disini neh.. :p
4. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut. Sayang kan..
5. Mengurangi resiko banjir di musim hujan. Jakarta oh jakarta…
6. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah
7. Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor. Alhamdulillah.
Trus, klo kita udah tau arti dan manfaatnya, diman aseharusnya LRB dibuat buat resapan air? Tenang tenang. Disini nih:
1. Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb. Di got got kaya gini effektif banget loh..
2. Di sekeliling puun-puunan
3. Pada tanah kosong antar tanaman/ batas tanaman
Cara bikinnya giman cuy:
1. Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dengan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm dengan menggunakan bor tanah
2. Mulut lubang dapat dikuatkan dengen semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 cm serta diberikan pengaman agar tidak ada anak kecil atau orang yang terperosok
3. Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami
4. Jumlah lubang biopori yang ada, sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus=intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air per lubang (liter/jam)
Naahh…kurang lebih itulah obrolan kita di sore nan romantis tersebut. wakakak.. yang jelas, kita dapet “sesuatu” sore itu. Yang paling penting buat kita selanjutnya adalah, kita pengen berperan disini. Pengen praktek bikin LRB biar ga cuma sekedar obrolan doang.. praktek praktek! Janga cuma teori.. tapi, hehe.. alatnya mahal cuy, dua ratus rebuan.. yaah.. kita sih yakin pasti ada jalannya. Siapa tau ente yang baca ini, trus punya dana lebih bisa beliin alatnya buat kite.. hehe (ngarep)
Okedeh.. udah cape ngetik nih. Udah dulu ya moga bermanfaat. Sampe ketemu di obrolan selanjutnya. Temanya soal global warming gitu.. ciaw.. pesen kita terakhir, berbuatlah sesuatu untuk lingkungan kita. Untuk bumi tercinta. Salam rimba!!!