Di Sabtu siang itu, langit mendung. Rupanya tangis langit sisa tadi malam belum reda sepenuhnya. Hari itu jadwal kami latihan. Seperti biasa, jam 13 nol nol.
Jam 11 datang seorang alumni yang bertanya soal latihan hari ini. Namanya Hilal. Katanya alumni ini mau manjat di BL. Dia menanyakan alat, lalu menawarkan kami untuk ikut latihan manjat.
“Mau nunggu temen-temen yang belum datang, atau berangkat duluan?” Tanya dia. “kalau mau nunggu teman yang lain, alat mau dipinjam dulu” tambahnya. Rupanya Alumni ini mau latihan duluan. Akhirnya kami, Bule, Anget, Ubun, dan Koi berangkat ikut ke BL. Sesuatu yang (mungkin?) akan kami sesali..
Sampai disana, kami disuruh masang alat. Naik ke puncak papan panjat setinggi sekitar delapan belas meter untuk memasang Anchor dengan susah payah. Setelah sampai diatas, Kak Shandy menyusul. Mengajari kami memasang alat dengan benar. Setelah selesai kami pun turun dengan susah payah juga. Kami pun menunggu giliran manjat dengan gelisah. Akh.. langit rasanya makin “sedih” saja.. sepertinya ia ingin melanjutkan tangis tadi malam. Jangan dulu hujan ya langitku sayang..
Alat sudah terpasang. Papan terlihat meliuk-liuk indah. Tali pun seakan lembut melambai lambai. Merayu kami untuk ikut segera mencoba. Tapi rupanya kami memang harus menunggu. Disana ada seorang alumni yang terlihat begitu gatal menunggu sejak tadi. Biarlah kami menunggu. yang waras ngalah.. haha…

gambar dari www.makopala.or.id
Sang alumni pun memulai aksinya. Dengan gaya yang sebenarnya tidak terlalu meyakinkan, sedikit menyebalkan, iapun mulai memanjat bak atlit dunia.. dunia kanak-kanak.. wakakak..
Melihatnya memanjat, kami mulai semakin merasakan gatalnya tangan ini untuk memanjat segera. Rasanya ingin kami tarik senior itu dari bawah suapya cepat turun.. cepatlah kau lelah..kami sudah tak sabar..
Itu dia. Sampai papan tujuh. Ya. Hilal hanya tujuh saja. Dia sudah menyerah. Sekarang giliran kami hehe..
Kak Sandy, alumni yang mengajari cara memasang Anchor diatas tadi-pun akhirnya mengajak kami. “Ayo Pemanasan dulu!” Teriaknya. Kami pun menurut. Kami disuruh Pull up beberapa kali. Sangat berat. Tapi kami belum hilang semangat. Kami harus siap sebelum turun perang. Memanjat papan 18 meter dengan lekuk indahnya. Merasakan puncak kekuatan kami terkuras diatas sana. Menikmati beratnya getaran otot-otot lengan dan kaki kami dan berupaya naik setinggi mungkin. Mersakan gejolak batin kami untuk melawan bisikan lemah untuk menyerah di ketinggian sana. Ya kami harus siap. Siap dengan pemanasan..

Gambar diambil dari www.makopala.or.id
Namun naas. Tragedi itu pun terjadi. Rupanya langit tak sudi. Ia memang sedang bersedih. Ia mulai menangis kembali.. hujan turun. Oh andai bisa kami hibur engkau. Agar wajah cerahmu memancar kembali wahai langit. Kini tak mungkin lagi kami memanjat. Semakin lunglai ketika Kak Anggo yang juga datang pada hari sabtu kelabu ini memerintahkan kami untuk membereskan alat saat hujan sedikit lebih reda.. Praktis hanya satu orang alumni yang memanjat hari ini. Kami pun kembali ke sekret tercinta. Agrgrhgh…
Dan tahukah kawan, rupanya “bencana” itu belum berakhir. Empat orang ini, mengakhiri bulan januari dengan sangat sangat “manis”.. Latihan terakhir di bulan Januari kali ini memang luar biasa. gara-gara gak nyimak pengumuman minggu lalu, akhirnya kami harus rela dapat “hadiah”. Delapan Puluh Enam Seri Push Up!!!
Biar kami perjelas.. itu artinya, 86 dikali 10x. Sama dengan DELAPAN RATUS KALI Push up… AGGrrRGH…. Hadiah ini kami dapat, Gara-gara kami lupa kalau jadwal latihan hari sabtu ini (31/1) seharusnya kami ada janji sama Kak Madun dapet materi Rock Climbing. Nah karena kami malah ke BL, akhirnya memang telat deh. Kami baru memulai materi di sekre setelah lewat 86 menit dari waktu yang dijanjkan. Dan tanpa ampun. Adat pun berlaku.. haha… kami push up dengan berhitung bangga.
Duaratus dua puluh satu, Duaratus Dua puluh dua, … Dua ratus Tiga Puluh… BRAKK…!!!
hik.. masih 530 lagi…..